06 Mei 2026
Sejarah N219, Didesain Jadi Pesawat Ringan Penjangkau Wilayah Terpencil
BANDUNG, KOMPAS.com - Kehadiran pesawat N219 yang berhasil dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama LAPAN (saat ini tergabung dalam BRIN) menjadi salah satu simbol penting kebangkitan industri dirgantara Indonesia.
Pasca-terhentinya program N250 pada tahun 1997-1998, pesawat N219 dihadirkan sebagai pesawat utilitas ringan yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Tidak hanya sebagai produk teknologi, N219 juga merepresentasikan kemandirian bangsa dalam menguasai seluruh siklus pengembangan pesawat, mulai dari desain, manufaktur, hingga sertifikasi.
Latar Belakang Pengembangan N219
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari PTDI, Program N219 mulai diinisiasi pada tahun 2007 sebagai bagian dari agenda strategis nasional untuk menghadirkan pesawat perintis yang memiliki kemampuan untuk menjangkau wilayah terpencil dan terluar dengan infrastruktur terbatas.
Pengembangan ini menjadi momentum penting kebangkitan industri dirgantara Indonesia setelah N250.
Berbeda dari program sebelumnya, N219 merupakan pesawat yang didesain sepenuhnya 100 persen oleh insinyur Indonesia, menjadikannya tonggak baru dalam penguasaan teknologi kedirgantaraan nasional. Secara strategis, pengembangan pesawat N219 diarahkan untuk mendukung konektivitas wilayah 3TP (Terdepan, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan) serta meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam produk teknologi tertinggi secara bertahap dalam industri pesawat terbang. Untuk saat ini, TKDN dalam satu unit N219 telah mencapai 44,69 persen.
Perjalanan Historis Pengembangan N219
Program N219 dimulai pada tahun 2007 dengan fokus pada conceptual design, preliminary design, hingga detail desain penguatan kapabilitas engineering nasional. Kemudian, pada 2014, program N219 memasuki tahap manufaktur dengan dimulainya pembangunan prototipe pertama di fasilitas PTDI Bandung. Tahap ini mencakup fabrikasi struktur pesawat hingga integrasi sistem Instalasi mesin dan avionik.
Kemudian, pesawat N219 yang sudah jadi pertama kali diperkenalkan melalui roll-out pada tahun 2015 yang menandai kesiapan awal hasil desain nasional. Setelah itu, dilakukan ground test, taxi test, dan persiapan uji terbang. Setelah tiga tahun menjalani proses yang panjang, N219 melakukan penerbangan perdana pada 16 Agustus 2017 di Bandung.
First Flight ini menjadi milestone penting yang menandai keberhasilan tahap awal integrasi sistem pesawat.
Pesanan Pesawat
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mendapatkan pesanan pesawat terbang N219 untuk kebutuhan komersil dari perusahaan dalam negeri. Perusahaan tersebut ialah Mitra Aviasi Perkasa (MAP), bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan penerbangan di Indonesia. Wakil Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Febrian Alphyanto Ruddyard, yang datang untuk menghadari penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PTDI dan MAP, mengatakan penandatanganan tersebut menjadi tonggak sejarah baru industri dirgantara dalam negeri.
"Hari ini PT Dirgantara Indonesia melakukan kontrak penjualan N219 kepada perusahaan swasta untuk penerbangan komersial swasta," kata Febrian di Hanggar PTDI, Jalan Pajajaran, Bandung, Jawa Barat, Selasa (5/5/2026).
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menjelaskan ruang lingkup kontrak mencakup pengadaan 4 (empat) unit pesawat N219 konfigurasi kargo beserta kelengkapannya, termasuk pelatihan, publikasi teknis, yang penyelesaian dan penyerahannya akan dilakukan secara bertahap setelah kontrak efektif.
Gita membenarkan kontrak ini merupakan kontrak perdana pesawat N219 untuk pasar komersial dalam negeri. Untuk empat pesawat yang dipesan MAP nilainya mencapai 36,1 juta dollar AS.
"Pesawat ini memang dirancang untuk penerbangan perintis, dengan kemampuan beroperasi di landasan pendek (short runway) kurang dari 1 km serta landasan tidak beraspal (unpaved runway)," katanya.
Source: https://bandung.kompas.com/read/2026/05/06/113217378/sejarah-n219-didesain-jadi-pesawat-ringan-penjangkau-wilayah-terpencil?page=1