PTDI diketahui sudah memproduksi FFAR alias Folding Fin Aerial Rocket dan WAFAR alias Wrap Around Fin Aerial Rocket. Dua produk roket ini menjadi andalan yang disiapkan oleh PTDI untuk memenuhi kebutuhan sistem senjata TNI.
Dikutip Zonajakarta.com dari unggahan akun Instagram PTDI pada 16 Juni 2025, PTDI rupanya diam-diam tengah maksimalkan produksi roket buatannya. "Bukan sekadar memproduksi roket—PTDI kini tengah memaksimalkan kapasitas produksi sistem senjata secara menyeluruh, mulai dari Roket, Warhead, hingga Firing Control System dan integrasinya ke berbagai platform militer. Termasuk seluruh program pengembangannya yang terus berjalan.
Semua ini dilakukan di Kawasan Produksi (KP) III Tasikmalaya, yang kini menjadi center of excellence untuk munisi roket udara kaliber 70 mm. Fokus utama program ini adalah mengembangkan roket generasi baru, seperti guided rocket, anti-drone warhead, dan teknologi terbaru lainnya.
Dengan lisensi dari FZ Thales Belgium sejak 1982, PTDI memiliki kapasitas produksi hingga 10.000 unit roket per tahun dan 5.000 unit warhead per tahun, dengan mengusung standar teknologi pertahanan global. Kami percaya, kekuatan pertahanan nasional dibangun lewat inovasi, kolaborasi, dan semangat bersinergi.
PTDI siap mendukung pemenuhan kebutuhan alutsista TNI dan mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama mewujudkan kemandirian teknologi pertahanan. Bersama, kita bergerak maju untuk Indonesia yang lebih kuat dan mandiri," jelas PTDI dalam unggahannya. Mitra PTDI, Forges de Zeebrugge (FZ) Thales Belgium adalah produsen senjata yang berkantor pusat di Herstal, Belgia.
Forges de Zeebrugge didirikan sebagai pabrik amunisi antara Zeebrugge dan Zwankendamme. Sejak Perang Dunia II, bisnis FZ beralih fokus ke peroketan. Pada tahun 1971, FZ membeli Fort d'Évegnée dari Angkatan Darat Belgia, menggunakannya untuk menyimpan bahan peledak.
FZ modern adalah anak perusahaan Thales , dan merupakan produsen terkemuka sistem roket udara-ke-darat pesawat (70mm, 2,75") termasuk peluncur roket (tabung 7, 12 dan 19), roket dan sistem kendali penembakan.
Sistem roket FZ memenuhi syarat dan digunakan secara operasional pada lebih dari 300 platform termasuk Airbus Helicopters, AgustaWestland, Hindustan Aeronautics, BAE Systems, Embraer, General Dynamics, Hawker Beechcraft dan produsen pesawat lainnya.
Dikutip Zonajakarta.com dari situs resmi Forges de Zeebrugge, Thales Belgium SA (sebelumnya Forges de Zeebrugge - FZ), afiliasi 100% dari Thales Group multinasional Prancis, merupakan pemimpin teknologi dan inovasi yang mengkhususkan diri dalam bidang sistem roket udara-ke-darat 70 mm (Standar NATO 2,75”) di pasar pertahanan di seluruh dunia.
Thales Belgium adalah salah satu perusahaan unik yang mampu menyediakan sistem roket 70mm lengkap (amunisi , peluncur roket dan sistem kendali penembakan) dan menangani semua layanan yang terkait untuk mengelola sistem roket udara-darat dan memastikan integrasinya pada berbagai kapal induk (pesawat terbang, helikopter, kapal dan kendaraan darat).
Dengan sejarah inovasi selama lebih dari 55 tahun, Thales Belgium merancang, memproduksi, mengintegrasikan, dan memasok sistem roket canggih 70mm di bawah merek terdaftar FZ dan menyediakan layanan global di bidang aktivitasnya kepada para pelanggannya.
Staf Thales Belgia telah memperoleh pengalaman bertahun-tahun dalam bidang propulsi, kembang api, mekanika, elektronik, material komposit, serta dalam balistik, panduan, simulasi, dan penelitian serta rekayasa sistem roket canggih.
Kaliber 70mm telah diadopsi tidak hanya di negara-negara anggota NATO, tetapi juga oleh 55 negara dan 70 angkatan bersenjata di seluruh dunia. Oleh karena itu, kaliber 70mm dianggap sebagai kaliber internasional. Beruntung, Indonesia menjadi salah satu mitra FZ Thales Belgium dan memiliki lisensi dari anak perusahaan Thales Group tersebut. Belum puas pegang lisensi FZ Thales Belgium, PTDI kini berencana untuk membuat roket dalam negeri yakni Roket Merah Putih.
Dikutip Zonajakarta.com dari rilis resmi PTDI pada 12 Juni 2025, sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dalam negeri, PTDI juga telah sepakati MoU dengan PT SAS Aero Sishan untuk pengembangan unit peluncur roket 70mm dan pengadaan roket uji, serta pengembangan, produksi, pemasaran dan pemeliharaan roket FFAR 70 mm dan Guided Rocket Merah Putih.
Kolaborasi ini diharapkan PTDI dapat meningkatkan kapabilitas integrasi sistem senjata secara lokal guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan nasional, serta mendorong terwujudnya kemandirian Alutsista.
Kerja sama ini menegaskan komitmen PTDI dalam memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional dan membangun sinergi global demi mendukung sistem pertahanan yang tangguh dan berdaya saing. Apalagi, PTDI juga menyepakati MoU dengan LIG Nex1 Korea Selatan dalam produksi dan pemasaran sejumlah senjata dari torpedo ringan hingga rudal anti kapal selam.
“Kerja sama dengan LIG Nex1 dari Korea Selatan maupun PT SAS Aero Sishan dari dalam negeri merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring aliansi teknologi, membuka peluang transfer teknologi, serta memperkuat rantai pasok nasional.
Dalam rangka peningkatan TKDN, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat memberi nilai tambah bagi ekosistem industri pertahanan nasional dan berkontribusi langsung terhadap penguatan kapasitas teknologi dalam negeri,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI.
Dalam hal sertifikasi, pada tahun 2019 PTDI memperoleh Military Air Weapon Type Certificate (TC) dari Indonesian Defence Airworthiness Authority (IDAA) untuk beberapa komponen strategis, seperti Smoke Warhead WD-703 dan Motor Rocket RD-7010, dimana pada tahun 2021 kembali memperoleh sertifikasi yang sama untuk Motor Rocket RD-702 dan Motor Rocket RD-701.
Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa produk roket PTDI telah memenuhi standar keamanan dan kualitas, serta layak digunakan untuk mendukung TNI dalam menjaga kedaulatan negara.
?
Source: https://www.zonajakarta.com/nasional/67315514313/roket-merah-putih-senjata-berpemandu-proyek-baru-anak-bangsa-indonesia-kesepakatan-ptdi-pt-sas-aero-sishan?page=3